Selasa, 17 Desember 2013

Tantangan: Strukturisasi, sistematisasi, konseptualisasi, realisasi dan evaluasi



Generasi muda identik dengan passion (keinginan besar), suka dengan hal-hal yang menantang. Oleh karena itu, kita tak bisa dipungkiri bahwa tantangan itu akan secara otomatis menjadi sesuatu kegiatan yang “harus” ditaklukkan. Kata-kata “harus” ini seakan-akan menjadi motivator penggerak setiap langkah kegiatan apapun yang mengindikasikan bahwa keinginan harus terlaksana, harus tercapai, harus sesuai target, dan seterusnya.
Permasalahannya, tantangan itu tidak hanya ada saat sekarang, tetapi dalam jangka panjang di masa depan kita juga dihadapkan pada suatu tantangan yang bahkan lebih complicated. Jika ada tantangan pastinya harus dihadapi juga dijalani, tidak mungkin melarikan diri, atau lebih konyol lagi berharap kembali ke masa lalu (bagaimana caranya?).
How to face the future challenge
Terstruktur dan sistematis sepertinya harus dilakukan sejak awal, supaya tidak semrawut (disorganize). Pengaturan terstruktur dan sistematis ini akan menjadi ciri khas generasi muda yang tidak serampangan atau bonek (bondo nekat), terkesan tidak asal-asalan dalam mengambil keputusan, dan identik dengan generasi muda yang well- educated.
Cara-cara berikut mungkin dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam merespon setiap tantangan yang ada:
Identifikasi. Kenali tantangan itu sendiri. Kita mengenal slogan "Kenalilah diri Anda”,  slogan yang diucapkan oleh Socrates, filosof terkenal yang hidup di Athena, Yunani, pada abad keempat sebelum Masehi. Selain itu, Hadits Nabi Saw menyebutkan, “Siapa yang mengetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu). Pentingnya mengenali tantangan supaya tidak terjebak pada suatu situasi yang tidak menguntungkan. Cara yang umum dilakukan untuk mengenali tantangan adalah mengidentifikasi, seperti:
  • Minat. Setiap orang pasti memiliki bakat yang sudah ada sejak lahir. Selanjutnya, minat akan melahirkan kegemaran, hobi dan kesukaan. Kita tidak mungkin memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu hal yang ia sendiri tidak suka. Seperti memaksa orang lain melakukan kegiatan politik, padahal orang tersebut tidak suka.
  • Gagasan. Ketika ada keinginan pasti ada ide-ide kreatif. Berkreasi tanpa henti membutuhkan pemikiran-pemikiran aktif dan kreatif.
  • Teori. Cari referensi untuk memperkuat keinginan anda. Kita tidak dapat mengabaikan bahwa apa yang kita lakukan hari ini pasti sudah pernah dilakukan oleh pendahulu kita di masa lalu, dan tindakan/ kegiatan pendahulu kita tersebut mungkin sudah dijadikan sebagai suatu literature atau referensi yang ditujukan bagi penerusnya, demi alasan perbaikan di masa mendatang.
Konseptualisasi. Biar bagaimanapun setiap tindakan atau keputusan yang hendak diambil, setidaknya dibuat konsep yang matang, terstruktur, dan sistematis. Dituangkan secara lisan maupun tulisan, demi kemudahan proses berikutnya. Biar bagaimanapun ingatan manusia tidak selamanya setia (alias manusia adakalanya jadi pelupa). 
Realisasi. Setelah melalui proses perencanaan yang terstruktur dan sistematis, tibalah pada suatu aksi realisasi. Kita tidak bisa  selamanya beretorika, tetapi kita dituntut berlogika dalam tindakan nyata. Retorika tidak ubahnya seperti “tong kosong bunyinya nyaring”. Evaluasi. Serangkaian realisasi tidak semuanya berjalan mulus sesuai rencana, adakalanya terjadi kesalahan, kegagalan, kesalahpahaman, salah komunikasi, dll. Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu evaluasi yang meninjau kelemahan dan kelebihan suatu kegiatan aksi realisasi.
Dengan demikian, merespon tantangan masa depan tidaklah harus disikapi dengan grusa-grusu (tergesa-gesa), mencapai segalanya dengan cepat tapi berantakan dikemudian hari. Melainkan menghadapinya dengan realistis, terstruktur, sistematis dan berpikir panjang, terkonseptual dengan matang.

Melihat secara realistis bahwa sosok Dino Patti Djalal memiliki berbagai kompetensi yang eligible untuk menjadi seorang pemimpin. Berbagai prestasi telah diraih dengan semangat etos kerja yang tinggi. Memiliki segudang pengalaman politik yang tidak diragukan lagi kehandalannya.
Segala tindakan yang dilakoninya sangat terstruktur dan sistematis—konseptual, sehingga ia berhasil menulis 7 buku, antara lain:
  1. "Para geopolitik maritim di Indonesia kebijakan teritorial" (Jakarta: CSIS, 1996)
  2. "Transformasi Indonesia" (Jakarta: Gramedia, 2005)
  3. "Indonesia pada bergerak" (Jakarta: Gramedia, 2006); kemudian diterjemahkan ke dalam "Indonesia Unggul" (Jakarta: Gramedia, 2008)
  4. "Harus Bisa!" (Jakarta: Merah Putih, 2008)
  5. "Energi Positif" (Jakarta: Merah Putih, 2009)
  6. “Dekade transformasional” (Jakarta, Merah Putih, 2011)
  7. “Cerita kehidupan: Resep sukses dan etos hidup diaspora Indonesia di Negeri Orang”( Jakarta, Merah Putih, 2012).
 Dalam Buku keempat "Harus Bisa!" Menjadi buku best seller nasional di Indonesia - sekitar 1,7 juta kopi telah dicetak. Buku itu berisi cerita-cerita politik, anekdot, dan pelajaran kepemimpinan dari Presiden SBY, diambil dari buku harian pribadinya sebagai Juru Bicara Presiden di Jakarta Globe menyebutnya "buku terbaik mengenai kepemimpinan di Indonesia". Ribuan posting komentar di Facebook telah menyebutkan buku ini "inspirasional".
Selain itu, Dr Dino Patti Djalal telah menulis banyak artikel untuk media massa domestik dan internasional. Selama karir diplomatic menjadi pemrakarsa (inisiator) sejumlah kebijakan, seperti:
  • Dialog keamanan Indonesia – Amerika Serikat, konsultasi bilateral tahunan dalam masalah keamanan dan pertahanan yang diadakan tahun 2001, dan dilanjutkan hingga hari ini. Secara signifikan,  dialog ini telah dimulai 4 tahun sebelum hubungan militer-untuk-militer Indonesia- Amerika Serikat dinormalkan tahun 2005.
  • Proses Forestry-11 (F-11), proses konsultatif  melibatkan Negara hutan hujan tropis di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang dimulai tahun 2007 untuk meningkatkan peran kritis mereka sebagai bagian penurunan karbon global untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
  • Salah satu arsitek dari Global Inter-Media Dialogue, disponsori oleh Indonesia and Norwegia untuk memperkenalkan kebebasan pers serta toleransi agama dan budaya dan disusun oleh President Susilo Bambang Yudhoyono setelah krisis kartun. Dialog antar-Media global diadakan di Bali 2 September 2006 dihadiri oleh jurnalis dari Negara-negara barat dan Islam. Diskusi dilakukan secara bebas tanpa intervensi pemerintah.
  • Presidential Visitor’s Program, program tahunan untuk mengundang Friends of Indonesia dari seluruh dunia untuk mengunjungi Indonesia selama masa perayaan kemerdekaan pertengahan Agustus.
Selain itu, Dr Dino adalah Sherpa Indonesia untuk G-8 Outreach Summit pertemuan di Hokkaido, Jepang pada tahun 2008. Dia juga adalah wakil Indonesia "Jaringan Pimpinan dalam mendukung reformasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa”  pada tahun 2005, dipimpin oleh Perdana Menteri Swedia Göran Persson.
Kiprahnya di bidang perpolitikan yang begitu banyak yang tidak dapat penulis ulas keseluruhan di blog ini, untuk lebih detailnya mengenai Dino Patti Djalal anda simak di website resminya di http://dinopattidjalal.com.
Baru-baru ini, Dino Patti Djalal menjadi peserta Konvensi Calon Presiden  dari partai Demokrat. Ia adalah orang pertama yang melaporkan rekening kampanyenya kepada KPK dan akan membuka akses kepada publik melalui website  untuk transparansi dan akuntabilitas sehingga potensi penyalahgunaan jabatan yang diembannya dapat dihindari.  Dino menganggap langkah ini sebagai bagian dari misi “modernisasi politik Indonesia” yang diusungnya dan sebagai langkah konkrit untuk menghindari keburukan praktek “money politics”. Jadi layakkah Dino Patti Djalal menjadi pemimpin Indonesia, bagaimana menurut pendapat anda?

Related Post:

Written by: Hyen Indiar Advariant Updated at: 05.59

Penulis: Hyen Indiar ~ Building directory

Artikel Tantangan: Strukturisasi, sistematisasi, konseptualisasi, realisasi dan evaluasi ini dipublish oleh Hyen Indiar pada hari Selasa, 17 Desember 2013 Terima kasih Anda telah membaca artikel tentang Tantangan: Strukturisasi, sistematisasi, konseptualisasi, realisasi dan evaluasi ini. Sertakan link http://advariant.blogspot.com/2013/12/tantangan-strukturisasi-sistematisasi.html ini jika anda gunakan sebagai referensi. Semoga bermanfaat bagi anda. Jika anda menyukai Blog ini, silahkan like di http://facebook.com/hyen.indiar dan follow kami di http://twitter.com/linkvariasi. Terima kasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca dan berkomentar tentang artikel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang sopan, setiap komentar yang sesuai tema akan diterima dengan baik, dan yang Anonymous kami mohon maaf terpaksa dihapus!