Tagreed Issa Kawar
Princess
Sumaya University
untuk tehnologi
P.O.
Box 1438 Al Jubaiha 11941
Amman
– Jordan
Intisari
Penelitian
ini bertujuan pada perbedaan lintas budaya dalam manajemen. Ada
bidang dalam manajemen dimana perbedaan mengarah pada sikap, perilaku, fungsi,
masalah komunikasi dan dampak budaya dapat dilihat. Perbedaan lintas budaya
berasal dari perbedaan latar belakang setiap budaya. Variasi budaya mungkin
disaksikan dalam tempat kerja, dan ada factor lain diperkenalkan seperti
mencapai target penjualan, deadline rapat, bekerja dalam anggaran yang ketat,
yang mungkin menyebabkan konflik. Disebabkan perbedaan dalam budaya, mungkin
ada kesalahpahaman diantara orang yang bekerja dalam organisasi yang sama berkaitan
dengan perbedaan nilai mereka, kepercayaan, latar belakang, dan lain-lain.
Untuk manajemen yang sukses, seseorang harus mampu bekerja orang dari latar
belakang budaya berbeda tidak masalah apa orientasi budaya mereka. Suatu bukti dalam
masalah ini adalah manajemen yang berhasil dari kebanyakan perusahaan barat
dalam bagian berbeda dunia seperti timur tengah dan mereka menghasilkan
manajemen yang baik.
Kata
kunci: perbedaan lintas budaya, manajemen, budaya.
1.
Pengantar
Untuk
memulai dengan, harus ada definisi yang baik dari pernyataan “budaya” yang
dapat didefinisikan sebagai nilai yang diwariskan, konsep dan cara hidup bersama
seseorang dari kelompok social yang sama. Untuk membuat definisi lebih jelas, budaya
dibagi ke dalam dua jenis: pertama adalah budaya umum dimana budaya bersama
dari semua manusia yang tinggal dalam planet ini. Kedua adalah budaya local
yang mengacu pada symbol dan skema dibagi bersama dengan kelompok social
khusus.
Seperti
yang telah diketahui, dunia menjadi sekarang ini suatu desa global, dalam
perhatian tersebut pencapaian tehnologi dari waktu modern ini telah membawa seseorang
saling dekat satu sama lain. Hal ini juga dimaksudkan bahwa orang dari bagian
berbeda dunia dan dengan perbedaan latar belakang budaya bekerja dan berkomunikasi
bersama-sama. Kenyataan ini adalah cara yang menarik, tetapi berhadapan dengan
orang dari budaya berbeda membutuhkan pengetahuai keanekaragaman budaya:
contoh, cara kita berhadapan dengan budaya, apa yang kita sebut dan apa yang
akan hindari untuk dikatakan, bagaimana berkomunikasi dan sadar dari tabu
budaya sebab apa yang diterima dalam satu budaya mungkin tidak diterima dalam
budaya lain. Apa yang diterapkan untuk organisasi butuh berhadapan masalah
tertentu seperti memotivasi pekerja, menstrukturkan kebijakan dan mengembangkan
strategi. Dalam kasus ini, harus ada jenis pemahaman keanekaragaman budaya
dalam rangka menerapkan masalah yang disebutkan di atas, di tempat kerja.
Untuk
memberikan definisi luas dari kata budaya, kata memiliki dua makna. Makna
pertama “peradaban” yang membawa seni dan keahlian, pendidikan dan tata cara. Sementara
makna kedua mengacu pada cara orang berpikir, merasa, dan bertindak sesuai
dengan nilai dan norma dominant dalam masyarakat mereka. Menurut Hofstede
Geert, budaya didefinisikan sebagai “program kolektif dari pembedaan pemikiran
anggota satu kelompok atau kategori orang dari kelompok lain”. Dalam kata yang
sederhana, budaya mengacu pada nilai yang diketahui untuk kelompok suku
tertentu dari latar belakang social yang sama.
Sebagian
besar dari satu budaya diperoleh selama masa kanak-kanak, sebelum pubertas. Manusia
pada usia awal memiliki kemampuan untuk menyerap norma budaya dari budaya
sekitar mereka, dari orangtua, saudara kandung, teman sepermainan, … dan lain-lain.
Karena itu, budaya membantu seseorang untuk berfungsi secara pelan dalam
masyarakat khusus. Ada level
tertentu dimana budaya dapat bekerja:
1.1. Level nasional: ini dikenal bahwa budaya budaya nasional berbeda pada level
nilai bawah sadar yang diperoleh selama masa kanak-kanak dan budaya nasional
ini seimbang, perubahan setelah itu yang terjadi adalah terapan dimana
mendasari nilai yang dibiarkan tidak tersentuh.
1.2. Level organisasi: budaya organisasi berbeda pada level terapan yang
dapat dijelaskan secara dangkal dan mereka untuk beberapa tingkat yang dapat
dikelola. Budaya organisasi ini berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan lain
dalam Negara yang sama.
1.3. Level jabatan: jenis budaya ini berasal antara budaya nasional dan
organisasi; memperoleh suatu jabatan seperti mengajar membutuhkan nilai social
yang diperoleh bersamaan dengan praktek organisasi.
1.4. Level gender: perbedaan gender diakui dalam budaya yang sama, ada yang
disebut budaya lelaki yang berbeda dari budaya wanita. Secara
teknis, lelaki dan wanita memiliki kemampuan untuk menunjukkan tugas yang sama
pada tempat kerja, tetapi mereka memiliki perbedaan ketika kedua menjawab
symbol yang digunakan dalam masyarakat. Perbedaan antara lelaki dan wanita
sangat bergantung pada budaya nasional dari suatu Negara.
2.
Perbedaan lintas budaya dalam
perusahaan multi nasional
Geert
Hofstede adalah ahli sosiologi yang mempelajari pekerja yang bekerja di suatu
perusahaan multi nasional (Reynold dan Valentine, 2011). Dia menjelaskan empat
cara yang dapat membantu dalam menganalisa dan memahami budaya lain sebagai
berikut:
2.1. Individualisme vs. Kolektivisme: dalam beberapa budaya, individual
ditekankan sementara kolektivisme kelompok lebih ditekankan.
2.2. Jarak kekuasaan: budaya yang percaya bahwa kekuasaan organisasi harus
didistribusikan secara tidak seimbang.
2.3. Mengindari ketidakpastian: Hofstede menemukan bahwa beberapa budaya
cenderung menerima perubahan sebagai suatu tantangan sementara budaya lain
tidak.
2.4. Maskulinitas vs. Feminitas: Hofstede sendiri cenderung menolak istilah
“maskulin” dan “feminine”. Dua istilah ini harus dilupakan dalam rangka menilai
masalah lain yang lebih penting untuk organisasi seperti prestasi dan ketegasan.
Sejak
budaya mungkin didefinisikan sebagai “nilai yang diwariskan, konsep dan cara
hidup yang dibagi bersama dengan orang dari kelompok social yang sama”. Budaya
tidak dimiliki oleh kelas social tertentu; kenyataan setiap dan tiap-tiap orang
tidak hanya memiliki satu budaya tetapi budaya yang menyebabkan kompleksitas
dari istilah. Budaya dapat didefinisikan sebagai “dinamis” dalam perhatian
dimana budaya berubah dari waktu ke waktu, perubahan ini dalam budaya mungkin
mengarah pada konflik.
Dalam
rangka memahami dengan baik budaya, harus ada pemahaman konflik yang mungkin
muncul berkaitan dengan perbedaan antara budaya. Menurut Avruch (1998), yang
menulis tulisan dalam konflik lintas budaya, dia mendefinisikan konflik sebagai
berikut:
“Suatu kompetisi oleh kelompok atau individu di atas tujuan
yang bertentangan, sumberdaya langka atau sumberdaya kekuasaan dibutuhkan untuk
memperolehnya. Kompetisi ini juga ditentukan oleh persepsi individu dari
tujuan, sumberdaya, dan kekuasaan dan persepsi tersebut mungkin sangat berbeda
diantara individu. Salah satu persepsi dominant adalah budaya, secara social
diwariskan, dibagi bersama dan mempelajari cara hidup yang dimiliki oleh
individu dalam kebaikan keanggotaan mereka dalam kelompok social”.
Untuk
memberikan suatu definisi kata konflik, konflik adalah cirri yang dapat
ditemukan dalam suatu masyarakat manusia dan mungkin terjadi sebagai suatu
hasil jenis interaksi social. Konflik yang mungkin berlangsung antara budaya
mungkin menghadapi masalh kesalahan komunikasi antara budaya dan
kesalahpahaman. Masalah tersebut akan menyebabkan suatu peningkatan konflik.
Selain itu, budaya mungkin bekerja sebagai suatu hubungan antara apa yang kita
sebut “identitas suatu individu” terhadap “identitas kolektif”. Dalam rangkan
memahami kompleksitas konflik, konflik harus dipikirkan bahwa konflik bukan
persoalan seseorang yang ingin memenangkan semuanya, sehingga konflik
melibatkan baik kompetisi dan kerjasama yang dicampur bersama-sama (Avruch,
1998).
Dalam
rangka mendekatkan ruang lingkup penelitian ini, konflik yang mungkin terjadi
antara individu dari latar belakang budaya berbeda dapat dipertimbangkan suatu
“konflik lintas budaya”. Konflik mungkin terjadi dalam kelompok social yang
sama menurut criteria berbeda: seperti keluarga, bahasa, agama, kesukuan,
nasionalitas, cirri sosioekonomi, pendidikan, jabatan. Dengan demikian, suatu
masyarakat membuat berbagai “sub budaya” dengan kebaikan anggota suatu
masyarakat “multi budaya”.
3.
Manajemen lintas budaya
Menurut
Nancy Adler (2008) dia memberikan definisi yang baik dari manajemen lintas
budaya:
“Manajemen lintas budaya menjelaskan perilaku seseorang
dalam organisasi di seluruh dunia dan menunjukkan pada semua orang bagaimana bekerja dalam organisasi
dengan pekerja dan populasi klien dari banyak budaya berbeda”.
Kepentingan
manajemen lintas budaya terletak dalam pertumbuhan kerjasama antara perusahaan
dalam Negara berbeda dimana kesulitan mungkin muncul sebab latar belakang
budaya berbeda.
Salah
satu peneliti terkenal di bidang budaya dan manajemen adalah Geert Hofstede
(1980). Karena itu, pekerjaan Hofstede sangat memerlukan suatu studi dalam
budaya dan manajemen. Dia mengembangkan apa yang disebut “pendekatan
dimensional untuk perbandingan lintas budaya”.
Seperti
dunia menyaksikan “globalisasi” hari ini, semakin banyak perusahaan berjalan
dalam tempat berbeda di seluruh dunia. Hal ini akan menghasilkan lebih banyak
aktivitas di seluruh dunia yang dihasilkan dalam komunikasi lintas budaya. Budaya
adalah sesuatu dimana manusia belajar dan sebagai suatu hasil. Pembelajaran
membutuhkan komunikasi dan komunikasi adalah suatu cara memberi kode dan
mengkodekan bahasa seperti halnya symbol yang digunakan dalam bahasa tersebut. Contoh,
manusia berkomunikasi melalui banyak maksud lain daripada bahasa seperti
ekspresi wajah, isyarat, bahasa tubuh, postur, dan lain-lain.
Dengan
kata lain, budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, jika salah satu
ditunjukkan untuk budaya tertentu, kemudian komunikasi menjadi keharusan. Pertama
untuk memperkenalkan istilah “komunikasi antar budaya” adalah Edward T. Hall
dimana dia mendefinisikan sebagai “komunikasi antara dua orang dari budaya
berbeda”. Istilah “komunikasi bisnis antara budaya” adalah istilah baru di
dunia bisnis yang mungkin didefinisikan sebagai komunikasi yang berlangsung
dalam bisnis dimana ada pekerja dari latar belakang budaya berbeda. Dengan kata
lain, ada istilah lain dimana “komunikasi internasional” yang dimaksudkan
komunikasi yang berlangsung antara Negara dan pemerintah daripada individual
(Chaney dan Martin, 2011). Karena itu, pengetahuan yang baik dari komunikasi
antara budaya seperti halnya komunikasi bisnis internasional sepenuhnya penting
untuk memberikan individu kesempatan untuk bersaing secara internasional.
4.
Kecerdasan budaya
Dalam
rangkan hidup dalam budaya khusus, individu diandaikan menyesuaikan dengan
perbedaan dalam budaya. Menurut Peterson (2004), kecerdasan budaya adalah
kemampuan untuk menunjukkan perilaku tertentu, termasuk keterampilan dan
kualitas, yang secara budaya ditunjukkan untuk sikap dan nilai lain.
Kecerdasan
budaya mencakup bidang lain (Chaney dan Martin, 2011) seperti:
4.1.
Kecerdasan linguistic: kecerdasan ini membantu belajar tentang bahasa asli
konsumen dan menggunakan bahasa Inggris bisnis internasional dapat meningkatkan
efektifitas ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain.
4.2.
Kecerdasan spasial: Kecerdasan ini melibatkan ruang yang digunakan selama rapat
dan perkenalan.
4.3.
Kecerdasan antar personal: Kecerdasan ini melibatkan kesadaran salah satu gaya
budaya yang d imiliki dalam rangka membuat penyesuaian untuk rekan kerja
internasional.
4.4.
Kecerdasan antar personal: Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami
orang lain dan motivasi mereka.
Dalam
kata-kata sederhana, ketika berhadapan dengan orang dari budaya lain, seseorang
mungkin mengetahui sesuatu tentang bahasa mereka, ruang untuk menggunakan
sementara berhadapan dengan orang, kesadaran tentang budaya anda dan bagaimana
menerapkan salah satu perilaku budaya dengan budaya lain tersebut.
5.
Pengaruh nilai budaya dalam
manajemen
Nilai
budaya memiliki pengaruh yang dapat dipertimbangkan dalam cara manajer
menjalankan suatu organisasi. Gambar berikut menyajikan perbedaan dimana
manajer mungkin dialami ketika mengelola bisnis di level internasional.

Gambar
1 Model budaya
Sumber:
disesuaikan dari melakukan bisnis secara internasional, buku kerja partisipan:
2.3.
5.1.
Fokus waktu (Monokronik/ polikronik)
Waktu
dianggap berbeda dalam setiap budaya menurut tradisinya, sejarah, dan
lain-lain. Menurut Hall dan Hall (1990), dua penulis membedakan dua jenis
system waktu: monokronik dan polikronik. Dalam budaya dimana system waktu
monokronik yang diikuti, waktu digunakan dalam cara linier dimana orang
menunjukkan satu aktivitas pada suatu waktu menurut jadwat pra pengaturan. Selain
itu, focus mereka dalam informasi daripada dalam orang. Dengan kata lain, dalam
budaya dimana system waktu polikronik digunakan orang focus pada lebih dari
satu waktu dan sedikit bergantung pada informasi detail, dan jadwal terbuka
untuk perubahan. Juga, orang mengambil prioritas dari jadwal.
5.2.
Orientasi waktu (masa lalu, sekarang dan masa depan)
Budaya
berbeda memperhatikan persepsi orientasi waktu mereka. Contoh, budaya
memperhatikan tentang masa lalu dimana nilai tradisi masa lalu dalam budaya
mereka. Rencana mereka focus pada apakah mereka bersamaan dengan sejarah dan
tradisi perusahaan. Sementara budaya memperhatikan tentang masa lalu yang
menarik dalam keuntungan jangka pendek. Masa depan focus pada perusahaan yang
memperhatikan tentang keuntungan/ manfaat jangka panjang. Penekanan dalam
orientasi budaya mengarah pada masa lalu yang dibuat oleh Hall dan Hall (1990),
dimana Negara seperti timur jauh, India dan Iran lekat pada masa lalu. Dengan
kata lain, budaya Amerika Serikat urban berorientasi pada masa kini dan masa
depan jangka pendek dan budaya Amerika Latin berorientasi pada keduanya masa
lalu dan masa kini. Hasilnya, perusahaan orientasi masa lalu menekankan tradisi
dan membangun rencana jangka panjangnya. Sementara perusahaan orientasi pada
masa depan menekankan rencana dan hasil jangka panjang.
5.3.
Kekuasaan (hirarki dan kesamaan)
Di
tempat kerja, level kekuasaan ditekankan
dalam budaya yang berorientasi pada hirarki. Pekerja mengimplementasikan arahan
manajer mereka dan peran manajer untuk mengambil keputusan dan mendistribusikan
pekerjaan untuk pekerja. Dalam beberapa budaya, ketidaksamaan diterima dan
tidak ada yang mencoba merubah situasi. Sementara budaya lain, ketidaksamaan
menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan karena itu ketidaksamaan
membutuhkan reformasi. Budaya berorientasi pada kesamaan tidak mempertimbangkan
hirarki meskipun kesamaan ada dalam rangka memudahkan hubungan dalam
organisasi. Hasilnya manajer terlibat dalam pekerjaan itu sendiri daripada
orang yang memilik peran diberikan arahan. Juga, manajer bukan satu-satunya
yang mengambil keputusan pada perusahaan mereka sendiri; pengambilan keputusan
dilakukan pada level semua pekerja terlibat dalam masalah.
5.4.
Persaingan (Kompetisi)
Manajemen
mungkin mendorong kompetisi dalam suatu organisasi, terutama dimana lingkungan
“pasar bebas” (Browaeys dan Price, 2008). Dalam beberapa organisasi, kompetisi
diantara pekerja didorong dalam rangka membuat pekerja lebih bertanggung jawab
dan lebih kreatif.
Ketika
kompetisi dinilai dalam suatu organisasi, kemudian focus pada kesejahteraan,
kinerja dan ambisi. Sementara dalam budaya lain, kepuasan kerja adalah focus
dimana kompetisi tidak dinilai sebanyak pekerjaan dalam lingkungan yang baik.
5.5.
Aktivitas (tindakan: dilakukan atau sedang dilakukan)
beberapa
perusahaan mempertimbangkan “budaya melakukan) dimana focus dalam mengembangkan
tindakan kerangka waktu, yang dapat diukur. Dalam “budaya sedang melakukan”
menekankan pengambilan visi perusahaan berusaha untuk mencapai.
5.6.
Ruang (Pribadi atau public)
Budaya
berbeda dalam persepsi ruang mereka, apakah beberapa budaya dipertimbangkan
sebagai pribadi, budaya mungkin dipertimbangkan sebagai ruang public oleh
budaya lain. Juga ada yang disebut “zona personal”; budaya berbeda ketika
budaya didekati selama percakapan. Dalam kasus zona personal ini dicampur, hal
ini akan menyebabkan tidak sesuai. Dalam beberapa budaya, beberapa masalah personal
dan keluarga dibahas secara terbuka, sementara dalam budaya lain dimana privasi
adalah kepentingan tinggi harus ada formalitas tinggi dalam percakapan dimana
focus terletak pada bisnis daripada masalah personal.
5.7.
Komunikasi (kontek tinggi atau kontek rendah)
Menurut
Hall dan Hall (1990), mereka mendefinisikan konsep “kontek” dimana lingkungan
sekitar dimana komunikasi terjadi. Mereka juga membuat perbedaan antara kontek
tinggi dan kontek rendah sebagai berikut:
“Komunikasi atau pesan Kontek Tinggi (KT) adalah
salah satu dimana sebagian besar informasi sudah dalam seseorang, sementara
sangat sedikit dalam kode, eksplisitm
bagian yang dikirim dari pesan. Komunikasi Kontek Rendah (KR) kebalikannya
saja; Misal, massa informasi ditetapkan dalam kode eksplisit.
Contoh,
Jepang dipertimbangkan sebagai suatu Negara yang memiliki kontek tinggi sebab
informasi implicit dalam teks sementara Amerika Serikat dipertimbangkan sebagai
Negara kontek rendah sebab informasi diberikan secara jelas.
5.8.
Struktur (individualisme atau kolektivisme)
Istilah
“struktur” mengacu pada stuktur organisasi dalam bisnis. Individualisme mengacu
pada budaya yang focus pada individu daripada kelompok. Dalam kasus ini
individu diandaikan untuk lebih percaya diri dan memiliki sedikit kebutuhan beristirahat
untuk kelompok dan tidak ada perbedaan antara di dalam kelompok dan di luar
kelompok. Kolektivisme mengacu pada berbagi nilai bersama kelompok dimana
kepentingan kelompok melebihi kepentingan individu. Individualisme dan
kolektivisme adalah dua konsep bertentangan.
Hofstede
dan Hofstede (2005) mempelajari individualisme dan kolektivisme dalam Negara
berbeda. Hasilnya adalah Amerika Serikat ada di ranking pertama dalam
individualisme dimana orang tua membawa anak-anak mereka pada kepercayaan diri.
Anak-anak Amerika menunjukkan opini dan ide mereka: mereka bertanggung jawab
untuk pilihan mereka ketika belajar di perguruan tinggi seperti halnya pilihan
pekerjaan.
Dalam
budaya lain, seperti Jepang, penekanan ditempatkan pada pendekatan kelompok
daripada dalam pendekatan individual untuk semua aspek kehidupan. Cina dan
Malaysia juga menilai pendekatan kelompok dan keluarga (Chaney dan Martin,
2011). Dari sudut pandang personal, budaya yang menilai individualisme akan
memiliki manajer yang lebih merdeka dan pekerja yang menunjukkan tanggung jawab
pada tugas mereka harus menunjukkan kreatifitas. Dengan kata lain, dalam budaya
yang menilai manajer kolektivisme dan pekerja dalam manajemen atas cenderung
mendelegasikan otoritas kepada pekerja lain. Hal ini mungkin menghasilkan
beberapa masalah dalam organisasi dimana tugas diambil oleh orang lain.
Table
berikut menunjukkan perbedaan antara “budaya individualisme” dan “budaya
kolektivisme”.
Budaya
individualisme
|
Budaya
kolektivisme
|
|
|
Gambar
2. Ringkasan budaya individualis dan kolektif
Sumber:
Disesuaikan dari Panduan untuk komunikasi lintas budaya
6.
Kesimpulan
Kesimpulannya,
tulisan ini telah menemukan bahwa perbedaan lintas budaya ada diantara budaya
berbeda. Perbedaan ini memiliki dampak pada komunikasi diantara orang dari
budaya berbeda. Sebab banyak perusahaan yang harus beroperasi dalam bagian
dunia berbeda, orang ditunjukkan untuk budaya berbeda dimana mereka harus
menyerap dan menggunakannya. Hasilnya, kebanyakan rintangan mungkin terjadi;
rintangan komunikasi adalah hasil dari perbedaan antara dua budaya. Rintangan
tersebut akan menyebabkan ketiadaan komunikasi efektif. Kadang-kadang bahasa
isyarat tertentu dipahami secara berbeda antara dua budaya. Contoh, mengangguk
dalam budaya Amerika maksudnya memahami apa yang telah dikatakan sementara di
Jepang mengangguk maksudnya mendengar apa yang telah dikatakan. Jadi, jika kita
memahami komunikasi antar budaya kita dapat mengatasi rintangan.
Meskipun
ada perbedaan antara budaya, orang memiliki kecerdasan untuk menyesuaikan
dengan perbedaan tersebut. Contoh, ekspatriate yang bekerja menunjukkan budaya
berbeda total dari penyesuaian budaya baru mereka, mereka masuk ke dalam system
dan mereka menggunakan untuk status quo. Hal ini membutuhkan apa yang disebut
kecerdasan budaya yang membantu seseorang mengatasi rintangan yang mereka
hadapi sebab keberagaman budaya.
Dalam
manajemen, budaya dapat dilihat ada banyak perusahaan yang beroperasi di luar
Negara mereka. Contoh, Orange untuk komunikasi dan Lapharge untuk semen adalah
dua perusahaan Perancis yang memiliki cabang di banyak Negara asing dimana
manajemen atas adalah Perancis dan sisanya pekerja local. Perusahaan berjalan
tanpa berkata, bahwa dalam kasus tersebut, manajer telah menyesuaikan budaya
baru dan dapat mudahn berhadapan dengan pekerja mereka meskipun mereka memiliki
budaya berbeda.
Sumber:
Jurnal
Internasional Bisnis dan ilmu social Vol.3 No. 6 [Masalah khusus – Maret 2012]
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments
Berkomentar yang sopan, setiap komentar yang sesuai tema akan diterima dengan baik, dan yang Anonymous kami mohon maaf terpaksa dihapus!